10 Ciri Khusus Kelelawar dan Fungsinya

Kelelawar adalah hewan mamalia yang memiliki sayap untuk terbang (Fatem dkk., 2006). Kelelawar merupakan hewan yang memiliki keragaman jenis terbesar kedua dalam kelas mamalia setelah rodentia (Nurfitrianto dkk., 2013). Selain memiliki sayap, kelelawar juga dikenal memiliki kemampuan ekolokasi yakni kemampuan mendeteksi lingkungan sekitar dengan menggunakan suara (Suharto dkk., 2015). Hal tersebut membantu kelelawar untuk terbang di malam hari mengingat kelelawar merupakan hewan nokturnal. Berikut adalah ciri khusus kelelawar beserta fungsinya:

Ciri khusus kelelawar

1. Memiliki Sayap

Kelelawar dikenal karena memiliki sayap, meskipun bukan merupakan spesies burung. Kelelawar merupakan satu-satunya spesies mamalia yang mampu terbang. Karena ciri khasnya tersebut, nama ordonya yakni Chiroptera berasal dari bahasa Yunani cheir yang berarti “tangan” dan pteros yang berarti “sayap”. Sehingga secara harfiah disebut “sayap tangan” (Awalyah dkk., 2019). Disebut demikian karena saya kelelawar pada dasarnya merupakan selaput tambahan di antara lengan dan jari tangannya. Berbeda halnya dengan burung yang mana sayapnya berasal dari bulu-bulunya.

2. Hewan Homoikiloterm

Kelelawar merupakan hewan homoikiloterm yang menyebabkan suhu tubuhnya tetap hangat walau berada di lingkungan dingin. Kemampuan tersebut didapat dengan cara thermoregulasi dengan meningkatkan laju respirasi dan meningkatkan jumlah eritrosit pada saat suhu lingkungan dingin (Wijayanti dkk., 2011).

3. Hewan Nokturnal

Kelelawar umumnya merupakan hewan nokturnal yang berarti melakukan aktivitas pada malam hari. Maka dari itu, pendengarannya lebih digunakan ketimbang penglihatan (Retnowati, 2017). Sementara siang hari digunakan untuk tidur. Alasan kelelawar memilih beraktivitas pada malam hari karena sayap kelelawar hanya berupa selaput tipis yang rentan mengalami kekeringan terutama karena terpapar sinar matahari (Awalyah dkk., 2019; Piter dkk., 2015).

4. Habitat di Goa

Habitat kelelawar berada di dalam gua. Goa merupakan tempat yang lembab dan terlindung dari matahari. Fungsinya adalah untuk menjaga sayap kelelawar agar tetap lembab mengingat sayap kelelawar rentan mengalami kekeringan.

5. Memiliki Kemampuan Ekolokasi

Kelelawar dikenal memiliki kemampuan canggih yang disebut ekolokasi. Kemampuan tersebut memungkinkan kelelawar untuk “melihat” di malam hari dengan menggunakan pantulan suara. Untuk melakukan hal tersebut, kelelawar mengeluarkan bunyi berfrekuensi tinggi dan mendengarkan gema yang dihasilkan dari pantulan bunyi tersebut terhadap objek sekitar. Kemampuan ini digunakan kelelawar untuk mendeteksi makanan, menghindari rintangan, dan mencari sarang dalam kegelapan (Suharto dkk., 2015).

6. Cara Tidur Yang Unik

Kelelawar tidur pada siang hari dengan cara yang unik, yakni dengan bergelantung terbalik umumnya di langit-langit gua (Awalyah dkk., 2019). Tujuan kelelawar tidur bergantung terbalik adalah agar siap segera terbang bila terancam oleh predator (Suyanto, 2001).

7. Memiliki Penciuman yang Tajam

Kelelawar memiliki indera penciuman yang tajam. Fungsinya adalah untuk membantu mencari makanan di malam hari dan berkomunikasi dengan sesamanya (Prasetyo dkk., 2012; Salomon dkk., 2019).

8. Berkembang Biak dengan Cara Melahirkan

Meskipun ini merupakan cara berkembang biak yang umum dilakukan oleh hewan mamalia, namun perlu dipertegas kembali mengingat kelelawar bukanlah spesies burung. Karena merupakan hewan mamalia, maka induk kelelawar juga menyusui anaknya.

9. Melakukan Hibernasi

Beberapa spesies kelelawar melakukan hibernasi. Kelelawar pemakan serangga melakukan hibernasi selama musim dingin pada daerah empat musim. Sedangkan kelelawar pemakan buah tidak melakukan hibernasi (Ariyanti, 2016). Fungsi melakukan hibernasi adalah untuk menghemat energi selama musim dingin mengingat sulitnya memperoleh makanan di musim dingin.

10. Bukan Merupakan Spesies Burung

Kelelawar bukanlah burung, melainkan mamalia. Meskipun sama-sama mampu terbang, kelelawar tidak memiliki karakteristik yang umum dimiliki burung seperti bertelur, memiliki paruh, dan memiliki bulu. Kelelawar juga memiliki karakteristik yang umumnya tidak dimiliki burung seperti melahirkan dan sayap terbuat dari selaput kulit.

Baca juga:

Daftar pustaka:

  • Ariyanti, Eka Sulpin. 2016. Dampak Perubahan Ekosistem Hutan Menjadi Agroforestri Karet, Kebun Karet, dan Kebun Kelapa Sawit Terhadap Keanekaragaman Jenis dan Kemelimpahan Relatif Kelelawar: Studi di Hutan Harapan PT. Restorasi Ekosistem Indonesia (REKI) dan Taman Nasional Bukit Duabelas, Jambi. Tesis. Universitas Lampung.
  • Awalyah, Siti Nurrohmah, Rooije R.H.Rumende, Hanry J. Lengkong. 2019. Kelimpahan dan Kekayaan Spesies Kelelawar di Gunung Tangk0ko Sulawesi Utara. Pharmacon: Jurnal Ilmiah Farmasi, Vol. 8, No. 3: 258-265.
  • Fatem, Sepus M., Petrus Izak Bumbut, dan Antoni Ungirwalu. 2006. Habitat Kelelawar Buah (Dobsonia minor) di Hutan Tropis Dataran Rendah Nuni Pantai Utara Manokwari. Media Konservasi, Vol. 11, No. 1: 17-20.
  • Nurfitrianto, Hendrik, Widowati Budijastuti, dan Ulfi Faizah. 2013. Kekayaan Jenis Kelelawar (Chiroptera) di Kawasan Gua Lawa Karst Dander Kabupaten Bojonegoro. LenteraBio, Vol. 2, No. 2: 143-148.
  • Piter, Fetronius, Tri Rima Setyawati, dan Irwan Lovadi. 2015. Karakteristik Populasi dan Habitat Kelelawar Hipposideros cervinus (Sub Ordo Microchiroptera) di Gua Bratus Kecamatan Air Besar Kabupaten Landak. Protobiont, Vol. 4, No. 1: 77-83.
  • Prasetyo, Pandam Nugroho, Hesti L. Tata, dan Sephy Noerfahmy. 2012. Kelelawar di Kebun Agroforestri Karet. Kiprak Agroforestri, Vol. 5, No. 2: 3-4.
  • Retnowati, Dita. 2017. Kelelawar Sebagai Sumber Ide Penciptaan Busana Artwear. Tugas akhir. Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia Yogyakarta.
  • Salomon, Salomon, Tri Rima Setyawati, dan Ari Hepi Yanti. 2019. Struktur Populasi Kelelawar (Tylonycteris pachypus) yang Bersarang pada Bambu (Bambusa maculata) di Dusun Jangkok, Kecamatan Air Besar, Kabupaten Landak. Jurnal Protobiont, Vol. 8, No. 2: 52-61.
  • Suharto, Suharto, Imam Robandi, dan Ardyono Priyadi. 2015. Penalaan Power System Stabilizer (PSS) untuk Perbaikan Stabilitas Dinamik pada Sistem Tenaga Listrik Menggunakan Bat Algorithm (BA). Jurnal Teknik ITS, Vol. 4, No. 1: 4-9.
  • Suyanto, A. 2001. Kelelawar di Indonesia. Bogor: Pusat Penelitian dan Pengembangan Biologi LIPI.
  • Wijayanti, Fahma dkk. 2011. Eritrosit dan Hemoglobin pada Kelelawar Gua di Kawasan Karst Gombong, Kebumen, Jawa Tengah. Jurnal Biologi Indonesia, Vol. 7, No. 1: 89-88.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *