Tanah Regosol (Artikel Lengkap)

Tanah regosol adalah tanah muda yang berasal dari bahan aluvial berbagai sumber seperti abu vulkanik, sedimentasi sungai, maupun endapan kuarsa laut. Sehingga tanah ini banyak terdapat di sekitar sungai (FahmF dkk, 2009). Tanah regosol kurang baik bagi pertumbuhan tanaman karena didominasi oleh fraksi pasir sehingga kemampuan menahan air dan zat hara berkurang (Prayitno dkk, 2017).

Gambar tanah regosol
Gambar tanah regosol (By Jan Nyssen – Own work, CC BY-SA 4.0, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=83366637)

1. Ciri-Ciri Tanah Regosol

  1. Didominasi fraksi pasir (Prayitno dkk, 2017)
  2. Berbutir kasar (Kamariah dkk, 2014)
  3. Sangat muda (Prayitno dkk, 2017)
  4. Solum tebal yakni sekitar 25 cm (Adi dan Setiawan, 2010; Saputro dkk, 2017)
  5. Kandungan bahan organik dan nitrogen rendah (Prayitno dkk, 2017) sehingga kesuburannya rendah.
  6. Warna kelabu, coklat kekuning-kuningan, atau keputih-putihan (Saputro dkk, 2017)
  7. Kandungan air dan lempung rendah (Prayitno dkk, 2017)

2. Bahan Induk Tanah Regosol

Tanah latosol berasal dari batuan induk batu gamping, batu pasir, dan breksi/konglomerat (Adi dan Setiawan, 2010). Terdapat pula tanah regosol Lombok yang terbentuk dari bahan induk vulkan yang belum berkembang (Sirappa dan Sastiono, 2002).

3. Macam-Macam Tanah Regosol

Tanah regosol dibagi menjadi dua jenis yaitu:

  • Tanah regosol abu vulkanik, adalah tanah yang terbentuk dari bahan induk vulkan. Karena masih baru terbentuk, tanah ini memiliki bahan organik yang rendah pada tanah berpasir sehingga kurang mendukung penyediaan air dan zat hara. Contoh tanah regosol abu vulkanik adalah yang berada di Lombok dan Sleman, Yogyakarta (Adrinoviarini dkk., 2014).
  • Tanah regosol bukit pasir atau sand dunes, adalah tanah yang terbentuk oleh pasir-pasir yang berada di pantai yang memiliki sifat deflasi dan akumulasi. Contohnya yang berada di Sleman, Yogyakarta (Dewi, 2016).

4. Persebaran Tanah Regosol

Persebaran tanah regosol

Tanah regosol mencakup sekitar 260 juta hektar di seluruh dunia, khususnya di daerah kering di barat Amerika Serikat, Afrika Utara, Timur Tengah, dan Australia. Sekitar 50 juta hektar tanah regosol berada di daerah tropis basah/kering, khususnya di utara Australia. Sedangkan 36 juta hektar lainnya berada di area pegunungan.

4.1 Persebaran Tanah Regosol di Indonesia

Di Indonesia, tanah regosol tersebar di berbagai daerah khususnya pantai dan gunung berapi. Seperti contohnya di Pamekasan Madura, sekitar Gunung Rinjani Lombok, dan Sleman Yogyakarta.

5. Kesuburan Tanah Regosol

Tanah regosol memiliki produktivitas dan kesuburan rendah akan tetapi masih dapat dikelola untuk usaha pertanian dengan bantuan pasokan pupuk dan air (Nurhalimah dkk., 2014). Sonbai (2013) melakukan penelitian mengenai pertumbuhan dan hasil jagung pada berbagai pemberian pupuk nitrogen di lahan kering regosol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk nitrogen berpengaruh meningkatkan kadar klorofil, laju fotosintesis, luas daun, tinggi tanaman, dan hasil biji kering jagung per hektar.

6. Pemanfaatan Tanah Regosol

Meskipun tanah regosol kurang subur, akan tetapi masih dapat dimanfaatkan untuk lahan pertanian dan perkebunan dengan bantuan pupuk dan air. Tanah regosol sering ditanami palawija, jagung, tembakau, kelapa, dll. Ada juga yang memanfaatkan tanah regosol untuk dibangun.

Baca juga:

Daftar Pustaka:

  • Adi, Rahardyan Nugroho, Ogi Setiawan. Penentuan Zonasi Tataguna Air Tanah di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam, Vol. 7, No. 4: 315-339.
  • Adrinoviarini, Supriyanto N., dan Bambang Djadmo K. 2014. Pengaruh Abu Vulkanik Hasil Erupsi Merapi dan Pupuk Kandang Terhadap Sifat Fisika Tanah dan Hasil Kacang Tanah pada Regosol Abu Vulkan di Sleman, DIY. Magrobis Journal, Vol. 14, No. 1: 24-35.
  • Dewi, Fatma. 2016. Pengaruh Alihfungsi Lahan 2004-2014 Terhadap Sosial Ekonomi Rumah Tangga Desa Sendangadi Kecamatan Mlati Kabupaten Sleman. E-Jurnal. Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta.
  • FahmF, Arifin, Syamsudin, Sri Nuryani H Utami, dan Bostang Radjagukguk. 2009. Peran Pemupukan Fosfor dalam Pertumbuhan Tanaman Jagung (Zea mays L.) di Tanah Regosol dan Latosol.  Berita Biologi, Vol. 9, No. 6: 745-750.
  • Kamariah, Ruzkiah Asaf, dan Admi Athirah. 2014. Distribusi Kualitas Tanah Tambak di Kabupaten Probolinggo Provinsi Jawa Timur. Prosiding Forum Inovasi Teknologi Akuakultur.
  • Nurhalimah, Siti, Sri Nurhatika, dan Anton Muhibuddin. 2014. Eksplorasi Mikoriza Vesikular Arbuskular (MVA) Indigenous pada Tanah Regosol di Pamekasan, Madura. Jurnal Sains dan Seni Pomtis, Vol. 3, No. 1: 2337-3520.
  • Prayitno, Mahmud Dwi, Sri Manu Rohmiyati, Valensi Kautsar. 2017. Pengaruh Air Payau dan Dosis Bahan Organik Terhadap Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit di Pre Nursery pada Tanah Pasiran. Jurnal Agromast, Vol. 2, No. 1.
  • Saputro, Widodo, Rahayu Sarwitri, dan Pantja Siwi V.R. Ingesti. 2017. Pengaruh Dosis Pupuk Organik dan Dolomit pada Lahan Pasir Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Kedelai (Glycine max, L.Merrill). VIGOR: Jurnal Ilmu Pertanian Tropika dan Subtropika, Vol. 2, No. 2: 70-73.
  • Sirappa, M.P., dan Astiana Sastiono. 2002. Analisis Mineral Lempung Tanah Regosol Lombok dengan Menggunakan Sinar X dalam Kaitannya dengan Penentuan Sifat dan Cara Pengelolaan Tanah. Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan, Vol. 3, No. 2: 1-6.
  • Sonbai, Jemrifs H.H. 2013. Pertumbuhan dan Hasil Jagung pada Berbagai Pemberian Pupuk Nitrogen di Lahan Kering Regosol. Partner, Vol. 19, No. 2: 154-164.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *